Selasa, 19 April 2011

Cinta

Keyla memarkirkan mobilnya dipekarangan rumahnya. Dengan muka kusut Keyla keluar dari mobilnya. Bukan karena digodain oleh Diva dan Glady, tapi Diva menceritakan sesuatu yang paling memalukan selama dia hidup di dunia. Alhasil walaupun Glady tak tertawa, Keyla melihat muka Glady yang memerah karna menahan tawanya. Glady dan Diva pun mengikuti Keyla masuk ke rumahnya. Keyla menyodorkan kunci mobilnya pada pak Dadang, sopir keluarganya dan menyuruh memindahkan barang Glady ke kamarnya.
"Udah deh jangan ketawa mulu" Protes Keyla sambil menaiki anak tangga. Sejak Glady turun dari mobil, Glady tak bisa menahan tawanya lagi. Sampai Keyla protes pada dirinya dan menyuruhnya diam. Glady akhirnya diam tak tertawa lagi.
"Sorry.. Fanny ending. I promise not to laugh at you again" Janji nya mengacungkan terunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. Keyla mengangguk dan mempercepat langkahnya dan masuk ke kamarnya. Glady tersenyum dan kembali menuruni anak tangga menuju ruang tamu untuk menemui Diva yang sudah kembali asyik dengan buku humornya. "Dia marah?" Tanya Diva tanpa mengalihkan pandangannya pada Glady.
"Yeah.. Tapi dia sudah memaafkanku. Kamu sebaiknya pulang saja, ini sudah sore banget loh" Ucap Glady mengingatkan. Diva melirik ke arah jam tangannya. Ternyata benar, ini sudah pukul 17. 30.
"Ok. Good bye" Pamit Diva meraih tasnya.
"Diva" Panggil Glady saat Diva hendak membuka pintu utama. "Use Keyla car alone. Tomorrow he is leaving with me" Diva mengangguk dan berlalu. Glady kembali menaiki tangga menuju kamarnya.
-----
Pagi yang cerah untuk mengawali hari yang menyenangkan. Keyla melihat dirinya didepan cermin. Senyum tipis tersungging dibibir mungil Keyla. Keyla menyisir rambutnya hingga rapi. Walaupun wajah Keyla tak pernah tersentuh oleh make up apapun tapi tak mengurangi kecantikannya. Dari dulu Keyla memang tak pernah menyukai make up. Dia lebih senang jika wajahnya terlihat asli, walaupun terkadang dia memoleskan bedak di wajahnya, itu pun hanya bedak untuk bayi. Keyla melihat sisi lain dalam dirinya. Jika saja dia ingin menjadi gadis paling cantik di sekolahnya seperti Anggun, dan banyak disukai oleh pria di sekolah nya, itu bisa di raihnya dengan mudah. Hanya tinggal mengoleskan sedikit make up di wajahnya dan mengurai rambutnya. Tapi Keyla sadar, jika melakukan itu Keyla tak kan nyaman dan tak kan menjadi dirinya sendiri. Keyla menyisir rambutnya kembali dan mengikat nya dengan tali berwarna biru.
"Lebih nyaman" Ucapnya sambil tersenyum, dia meraih tas gendongnya dan mengunci pintu kamarnya dari luar.
"Gak sarapan dulu?" Tanya Glady melihat Keyla tak melangkah kan kakinya ke arah Glady yang sedang sarapan pagi.
"Aku tak sarapan. Ayo berangkat" Ajak Keyla diikuti Glady yang sudah siap menjalani hari barunya, di sekolah yang baru, teman baru dan kehidupan barunya.

Keyla menangkap keanehan teman-temannya. Tapi dia hanya cuek-cuek saja. Lama-lama Keyla dan Glady risih ditatap oleh semua siswa dari mulai mereka menginjakan kaki di sekolah hari ini. "Pada kenapa sih? Risih tahu" Bisik Glady di telinga Keyla. Keyla menatap tajam pada orang yang menatap mereka, dan membuat mereka menundukan kepalanya.
"Apa lo lihat-lihat?" Bentak Keyla pada seorang anak laki-laki yang masih menatap mereka. Anak laki-laki itu menundukan kepala dan berlalu dari hadapan Keyla. Semua yang mendengarnya menundukan kepala takut mereka yang dibentak oleh Keyla selanjutnya. Kini Glady sudah seperti biasa, karena terlalu sibuk melihat keadaan sekolah ini Glady tak melihat bahwa Keyla telah berbelok memasuki kelasnya. Dengan santai nya Glady terus berjalan menyusuri koridor kelas. Segerombolan anak laki-laki mendekat ke arah Glady yang masih melihat-lihat sekolah.
"Hei cantik, anak baru?" Glady menoleh ke arah gerombolan anak laki-laki itu. Glady melihat sekelilingnya, tapi dia tak melihat Keyla berada di sana.
"Sorry, anda siapa?" Tanya nya ketakutan. Glady menduga bahwa mereka adalah lima anak yang tak tahu aturan, tak sopan dan nakal. Terlihat dari cara mereka menyapa seseorang dan cara berpakaiannya.
"Jangan sok deh" Ucap lelaki yang menyapa nya tadi.
"But, I don't now you and don't disturb me. Okay" Ucap nya sambil berlalu. Lelaki yang terlihat paling kecil diantara mereka mencengkram pergelangan tangan Glady, dan membuatnya membalikan badannya lagi. Lelaki yang diduga bos dari mereka atau yang menyapa nya tadi mengangkat dagu Glady agar melihat ke arahnya yang memang lebih tinggi dari Glady.
"Gak usah sok deh lu jadi orang. Anak baru aja belagu. Kenalin gue Danu, penguasa di sekolah ini. Haha" Tawanya keras. Glady menepis kasar tangan Danu yang mengangkat dagunya. Glady masih berusaha melepaskan tangannya yang dicengkram oleh salah satu dari mereka.
"Dia.." Danu menunjuk laki-laki yang mencengkram tangan Glady. "Roni. Ini Dika, ini Irfan, dan yang ini Chiko" Ucap Danu memperkenalkan teman-teman nya satu persatu. Roni menghempaskan tangan Glady dengan sedikit kasar. Glady mengusap-ngusap pergelangan tangan nya yang terasa sakit karena dicengkram kuat oleh Roni.
"Tidak penting" Ucapnya jutek. Glady menoleh ke kanan-kirinya. Terlihat semua siswa tak ada yang peduli terhadapnya. 'Kenapa mereka tak peduli? Atau mereka ditakuti?' Pikir Glady menduga-duga. "Mau apa kau?" Tanya Glady memberanikan diri. Karena tak yakin Glady dapat meloloskan diri dengan mudah dari mereka. Semuanya tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan dari Glady. "Apa kalian gila?" Tanya Glady kesal. Danu mengangkat dagu Glady lagi dan kembali tertawa terbahak-bahak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar