Selasa, 19 April 2011

Cinta

"You crazy?" Kesal Glady, karena dari tadi mereka hanya tertawa. Danu menatap tajam Glady dan mencengkram kedua bahu Glady dengan keras.
"Jangan mentang-mentang bule lo bisa seenaknya sama gue" Cibir Dany. Danu mendorong kasar bahu Glady hingga tersungkur.
Prokk.. Prokk.. Prokk..
"Wow hebat..!!" Sinis Keyla sambil bertepuk tangan. Diva membantu Glady berdiri. Diva dan Glady berdiri disebelah Keyla yang bertatapan tajam dengan Danu. "Tahu ini sekolah siapa?" Tanya nya sinis.
"Tahu" Jawab Danu tak kalah sinis. Murid-murid yang tadinya acuh kini mulai mengerubuni mereka, walaupun tak berani mendekat.
"Tahu yang paling gue benci?"
"Tahu, lo gak suka orang lain ganggu seseorang yang deket sama lo apalagi sepupu lo yang GAK PERNAH gue tahu, apalagi sampe dia lecet atau sakit" Jelas Danu sinis. Keyla tersenyum ke arahnya.
"Lo tahu hukumannya?"
"Gue tahu, dikeluarin dari sekolah atau nurutin perintah lo selama dia masih bersekolah di sini. Mau nanya apalagi lo?" Bentak Danu kesal pada Keyla yang dari tadi hanya mengajukan pertanyaan yang jawabannya semua orang tahu. Termasuk Danu yang berstatus sebagai kakak kelas Keyla. Semua orang di sana merasa tegang, kecuali Glady yang masih bingung dengan semua ini. Semua orang di sana merasa ada yang tak beres. Biasanya Dudi dan Keyla orang yang paling ditakuti oleh semua siswa SMA Kusuma Bangsa tak pernah saling mengganggu.
"Sekarang giliran lo yang harus milih itu, setelah tahun lalu Fika yang gangguin Diva..!!" Bentak Keyla masih berusaha menahan emosinya. Semua siswa yang melihat kejadian itu terkejut bukan main, mendengar Keyla mengatakan itu lagi setelah hampir setahun tak ada yang berbuat masalah dengan Keyla. Tapi tak dengan Diva dan Keyla. Diva berusaha menenangkan Glady yang terkejut akan hal itu. Walaupun tak tahu permasalahan nya Glady tetap mengerti dengan ucapan terakhir Keyla. Danu dkk pun terkejut mendengar itu. Tapi, Danu mencoba untuk tetap tenang menghadapi Keyla.
"Kenapa? Apa salah gue?" Tanya nya menutupi kegugupan nya. Walaupun tak sepenuhnya tertutupi, tetap saja terdengar bergetar. Danu memang anak yang terkenal nakal, tapi saat diposisi seperti ini, dia terlihat lemah. Dia tak mau mengecewakan kedua orang tuanya, hanya karena kenakalannya apalagi sampai di keluarkan dari sekolah.
"Salah lo? Lo udah ganggu dia" Tunjuk Keyla pada Glady yang menunduk.
"Siapa dia? Bule blagu aja lo belain" Cibir Danu mulai tenang.
Plakk...
Danu memegang pipinya yang terasa sakit karena tamparan Keyla. Kini emosi Keyla tak dapat lagi dibendung.
"Sekali lagi lo ngomong gue gak segan-segan keluarin lo dari sekolah" Bentak Keyla.
"Maaf Key, tapi dia siapa?" Tanya Irfan yang sedari tadi hanya diam. Keyla menatap mereka berlima dengan tatapan sinis.
"DIA SEPUPU GUE" Sinis Keyla penuh penekanan. Semua murid terkejut lagi. Jadi selama ini orang yang paling Keyla sayangi. Sampai-sampai Keyla pernah mengumumkan jika suatu saat nanti sepupunya berada di sekolah ini dia tak segan-segan menjatuhkan hukuman yang berat untuk orang itu. Dan hukuman yang pernah Keyla lontarkan baru dua orang yang mengalami itu, Fika dan Dina tahun lalu, karena masalah sepele. Tapi Keyla tak pernah bisa bertoleransi jika orang yang dekat dan dia sayangi diganggu. Danu menghela nafas berat. Rongga dadanya terasa sesak mendengar penjelasan Keyla bahwa orang yang tadi Danu ganggu adalah orang yang paling Keyla sayangi. "Sekarang lo pilih keluar secara tidak hormat atau turutin perintah gue selama lo masih jadi murid di sini?" Ucap Keyla yang sudah bisa menetralkan emosinya.
"Sorry Key, tapi gue gak tahu" Sesal Danu menunduk. Keyla tertawa mendengar Danu berbicara seperti orang yang putus asa dan memohon-mohon.
"Ternyata seorang DANU memohon sama gue. Hahaha" Tawa Keyla yang terdengar sinis. "Setelah apa yang lo lakuin sama Glady tadi. Lo gak liat lutut nya berdarah gara-gara lo dorong. Gue BISA bikin lo LEBIH dari itu" Ucap Keyla memberi penekanan.
"Gue ngaku salah, tapi gue mohon Key maafin gue"
"Gak ada penawaran lagi sama lo"
"Ok.. Ok.. Gue gak mau kecewain kedua orang tua gue. Lebih baik gue jadi babu lo dari pada gue lihat wajah kecewa orang tua gue" Pasrah Danu.
"Ok.. Mulai sekarang apa yang gue suruh lo harus ikutin. Sana pergi lo" Usir Keyla kasar. Keyla menoleh khawatir pada Glady yang menahan sakit dilutut nya.
"Bubar semua. Dan inget jangan ganggu Glady" Bentak Keyla. Keyla dan Diva memapah Glady menuju UKS.

"Key kenap lakuin itu?" Tanya Glady pada Key setelah lututnya di obati.
"Nanti gue jelasin" Ucap Diva cepat, karena Diva yakin Keyla masih emosi. Glady hanya mengangguk.
"Kita pulang..." Ucap Keyla singkat sambil berlalu, diikuti Diva dan Glady.
"Sebaiknya kita turuti dulu maunya" Ucap Diva sambil berjalan. Glady mengangguk.
-----
'Arghhh' Danu mengacak-ngacak rambutnya. Roni memberi isyarat pada semua siswa di kelasnya agar membiarkan hanya mereka berlima yang berada di kelas. 'Brakk..' Danu memukul meja dengan keras. "Gue bakal balas lo Keyla. Lo gak bisa seenaknya perlakukan gue kayak gitu" Ucap Danu dengan emosi.
"Lo gak akan pernah bisa melawan dia" Sinis Chiko.
"Chiko.." Tegur Irfan.
"Benerkan, di sekolah ini gak ada yang bisa lawan dia. So?" Ucap Chiko membuat Danu semakin emosi. Danu mencengkram erat kerah Chiko dan menonjok mukanya hingga Chiko jatuh tersungkur. Darah mengalir dari sudut bibir Chiko yang sedikit sobek, tapi Chiko tak bergeming bahkan tak ada niat untuk membalasnya. Saat Danu ingin menonjok Chiko kembali Danu mengurungkan niatnya dan menonjok angin.

Cinta

Keyla memarkirkan mobilnya dipekarangan rumahnya. Dengan muka kusut Keyla keluar dari mobilnya. Bukan karena digodain oleh Diva dan Glady, tapi Diva menceritakan sesuatu yang paling memalukan selama dia hidup di dunia. Alhasil walaupun Glady tak tertawa, Keyla melihat muka Glady yang memerah karna menahan tawanya. Glady dan Diva pun mengikuti Keyla masuk ke rumahnya. Keyla menyodorkan kunci mobilnya pada pak Dadang, sopir keluarganya dan menyuruh memindahkan barang Glady ke kamarnya.
"Udah deh jangan ketawa mulu" Protes Keyla sambil menaiki anak tangga. Sejak Glady turun dari mobil, Glady tak bisa menahan tawanya lagi. Sampai Keyla protes pada dirinya dan menyuruhnya diam. Glady akhirnya diam tak tertawa lagi.
"Sorry.. Fanny ending. I promise not to laugh at you again" Janji nya mengacungkan terunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. Keyla mengangguk dan mempercepat langkahnya dan masuk ke kamarnya. Glady tersenyum dan kembali menuruni anak tangga menuju ruang tamu untuk menemui Diva yang sudah kembali asyik dengan buku humornya. "Dia marah?" Tanya Diva tanpa mengalihkan pandangannya pada Glady.
"Yeah.. Tapi dia sudah memaafkanku. Kamu sebaiknya pulang saja, ini sudah sore banget loh" Ucap Glady mengingatkan. Diva melirik ke arah jam tangannya. Ternyata benar, ini sudah pukul 17. 30.
"Ok. Good bye" Pamit Diva meraih tasnya.
"Diva" Panggil Glady saat Diva hendak membuka pintu utama. "Use Keyla car alone. Tomorrow he is leaving with me" Diva mengangguk dan berlalu. Glady kembali menaiki tangga menuju kamarnya.
-----
Pagi yang cerah untuk mengawali hari yang menyenangkan. Keyla melihat dirinya didepan cermin. Senyum tipis tersungging dibibir mungil Keyla. Keyla menyisir rambutnya hingga rapi. Walaupun wajah Keyla tak pernah tersentuh oleh make up apapun tapi tak mengurangi kecantikannya. Dari dulu Keyla memang tak pernah menyukai make up. Dia lebih senang jika wajahnya terlihat asli, walaupun terkadang dia memoleskan bedak di wajahnya, itu pun hanya bedak untuk bayi. Keyla melihat sisi lain dalam dirinya. Jika saja dia ingin menjadi gadis paling cantik di sekolahnya seperti Anggun, dan banyak disukai oleh pria di sekolah nya, itu bisa di raihnya dengan mudah. Hanya tinggal mengoleskan sedikit make up di wajahnya dan mengurai rambutnya. Tapi Keyla sadar, jika melakukan itu Keyla tak kan nyaman dan tak kan menjadi dirinya sendiri. Keyla menyisir rambutnya kembali dan mengikat nya dengan tali berwarna biru.
"Lebih nyaman" Ucapnya sambil tersenyum, dia meraih tas gendongnya dan mengunci pintu kamarnya dari luar.
"Gak sarapan dulu?" Tanya Glady melihat Keyla tak melangkah kan kakinya ke arah Glady yang sedang sarapan pagi.
"Aku tak sarapan. Ayo berangkat" Ajak Keyla diikuti Glady yang sudah siap menjalani hari barunya, di sekolah yang baru, teman baru dan kehidupan barunya.

Keyla menangkap keanehan teman-temannya. Tapi dia hanya cuek-cuek saja. Lama-lama Keyla dan Glady risih ditatap oleh semua siswa dari mulai mereka menginjakan kaki di sekolah hari ini. "Pada kenapa sih? Risih tahu" Bisik Glady di telinga Keyla. Keyla menatap tajam pada orang yang menatap mereka, dan membuat mereka menundukan kepalanya.
"Apa lo lihat-lihat?" Bentak Keyla pada seorang anak laki-laki yang masih menatap mereka. Anak laki-laki itu menundukan kepala dan berlalu dari hadapan Keyla. Semua yang mendengarnya menundukan kepala takut mereka yang dibentak oleh Keyla selanjutnya. Kini Glady sudah seperti biasa, karena terlalu sibuk melihat keadaan sekolah ini Glady tak melihat bahwa Keyla telah berbelok memasuki kelasnya. Dengan santai nya Glady terus berjalan menyusuri koridor kelas. Segerombolan anak laki-laki mendekat ke arah Glady yang masih melihat-lihat sekolah.
"Hei cantik, anak baru?" Glady menoleh ke arah gerombolan anak laki-laki itu. Glady melihat sekelilingnya, tapi dia tak melihat Keyla berada di sana.
"Sorry, anda siapa?" Tanya nya ketakutan. Glady menduga bahwa mereka adalah lima anak yang tak tahu aturan, tak sopan dan nakal. Terlihat dari cara mereka menyapa seseorang dan cara berpakaiannya.
"Jangan sok deh" Ucap lelaki yang menyapa nya tadi.
"But, I don't now you and don't disturb me. Okay" Ucap nya sambil berlalu. Lelaki yang terlihat paling kecil diantara mereka mencengkram pergelangan tangan Glady, dan membuatnya membalikan badannya lagi. Lelaki yang diduga bos dari mereka atau yang menyapa nya tadi mengangkat dagu Glady agar melihat ke arahnya yang memang lebih tinggi dari Glady.
"Gak usah sok deh lu jadi orang. Anak baru aja belagu. Kenalin gue Danu, penguasa di sekolah ini. Haha" Tawanya keras. Glady menepis kasar tangan Danu yang mengangkat dagunya. Glady masih berusaha melepaskan tangannya yang dicengkram oleh salah satu dari mereka.
"Dia.." Danu menunjuk laki-laki yang mencengkram tangan Glady. "Roni. Ini Dika, ini Irfan, dan yang ini Chiko" Ucap Danu memperkenalkan teman-teman nya satu persatu. Roni menghempaskan tangan Glady dengan sedikit kasar. Glady mengusap-ngusap pergelangan tangan nya yang terasa sakit karena dicengkram kuat oleh Roni.
"Tidak penting" Ucapnya jutek. Glady menoleh ke kanan-kirinya. Terlihat semua siswa tak ada yang peduli terhadapnya. 'Kenapa mereka tak peduli? Atau mereka ditakuti?' Pikir Glady menduga-duga. "Mau apa kau?" Tanya Glady memberanikan diri. Karena tak yakin Glady dapat meloloskan diri dengan mudah dari mereka. Semuanya tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan dari Glady. "Apa kalian gila?" Tanya Glady kesal. Danu mengangkat dagu Glady lagi dan kembali tertawa terbahak-bahak.

Senin, 18 April 2011

Cinta

-----
Cinta adalah sebuah rasa ingin saling melindungi, rasa ingin berbagi, rasa saling melengkapi dan rasa ingin saling memiliki. Terkadang cinta membuat kita terpuruk tapi kadang cinta membuat kita selalu tersenyum.
-----
"Keyla..." Suara yang menggelegar memekak telinga yang mendengarnya dan sontak menghentikan langkah Keyla yang tergesa-gesa. Dengan ragu dan perasaan sedikit takut Keyla membalikan badannya dan tersenyum ke arah gurunya yang terkenal diseluruh penjuru SMA Kusuma Bangsa. Beliau terkenal akan kegalakannya. Apalagi siswa yang terlambat masuk sekolah pasti tak asing lagi dengan nama bu Winda. Sama hal nya dengan Keyla. Bahkan buku kehadirannya yang ada ditangan bu Winda pun telah penuh, ada kesiangan sampai bolos pun ada. Keyla berjalan ke arah bu Winda.
"Ada apa bu?" Tanya nya dengan tenang. "Ada yang salah sama penampilan saya?" Lanjutnya. Bu Winda terlihat marah pada murid nya yang satu ini. Sebenarnya bu Winda sudah cape setiap harus berhadapan dengan murid semacam Keyla yang susah diatur nya minta ampun. Mengalahkan Dudi siswa kelas XII yang terkenal paling nakal.
"Tidak. Cepat kembali ke kelas" Tutur bu Winda menahan amarah. Untung saja Keyla anak dari pemilik sekolah ini. Kalau bukan sudah dikeluarkan dari dulu.

Tettt... Tettt...
Bel istirahat telah terdengar di SMA Kusuma Bangsa. Keyla beranjak ke kantin ingin menemui sahabatnya Diva yang memang berbeda kelas.
"Bagi dong kalo makan" Ucap Keyla sambil merebut sendok dan memakan mie ayam sahabatnya di kantin. Diva hanya menatap pasrah mie ayam yang telah dilahap oleh Keyla.
"Lo yang bayar" Ucap Diva pelan.
"Ya udah gak jadi" Ucap Keyla sambil mengembalikan mengkok mie nya yang hanya tersisa sedikit. Diva menatap kesal ke arah Keyla.
"Keylaaaa..." Teriaknya kesal. Keyla langsung berlari keluar kantin sambil tertawa puas karna berhasil membuat Diva marah. Karna selama ini Diva orang yang sangat sabar. Dan kalau tidak salah Keyla pernah melihat Diva marah sangat menakutkan. Bahkan hanya beberapa kali Diva marah. Hanya pada waktu itu saja Diva marah besar. Karena Keyla mengambil diary nya. Hingga sekarang Keyla tak berani mengambil buku diary Diva lagi. Dan hingga saat ini Keyla belum menemukan cara jahilnya untuk membuat Diva marah tanpa mengambil buku diary nya.
-----
Matahari menyinari bumi ini dengan sangat terik. Hingga membuat siapa saja yang berada dibawahnya merasa kepanasan. Sama halnya seperti gadis remaja yang sedang menunggu seseorang dibawah pohon beringin yang terletak dipinggir jalan dan berdekatan dengan bandara Soekarno-Hatta. Entah sudah berapa kali dia menghubungi seseorang disebrang sana tapi tak ada jawaban dari sang pemilik hp yang dihubunginya. "Gue telvon lagi deh, kalo kali ini gak dijawab lagi mending gue balik lagi ke Belanda" Ucap gadis itu pelan, dan kembali menekan tombol hp nya menghubungi seseorang.
"Hallo..... Lo dimana gue jamuran nungguin lo didepan bandara. Cepetan, gue tunggu lo sekarang juga. 15 menit" Ucap gadis itu kesal sambil menutup sambungan telvon nya. Gadis itu menyenderkan punggungnya ke kursi bagian belakang yang dipakai duduknya. Dibuka kacamata hitam yang sejak tadi dipakainya. Terlihat cantik, rambut pirang khas seorang bule, kulit putih mulus, berperawakan tinggi lansing dan bermata biru, menambah ke cantikan gadis itu. Beberapa menit berlalu sangat membosankan bagi gadis itu, karna orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Saat hendak beranjak dari sana terlihat Keyla turun dari honda jazz biru kesayangannya didekat gadis itu.
"Helo.." Sapa Keyla sambil menepuk pundak gadis itu. "Excuse me" Sapa nya lagi, karna gadis itu belum menoleh masih membereskan koper nya. Tak lama setelah sapaan yang kedua Keyla, gadis itu menoleh dan mengerutkan keningnya.
"Key..?" Tanya gadis itu ragu.
"Yeah. Aku Key, kamu Glady?" Tanya Keyla yakin. Glady mengangguk senang, ternyata sepupunya yang sejak tadi ditunggunya datang juga. Keyla memeluk Glady, dia memang sangat rindu pada sepupunya yang sudah lama tak berlibur ke Indonesia. Keyla membawa koper Glady dan memasukan nya ke bagasi mobilnya.
"Hey Glad, aku lupa. Di dalam ada sahabatku" Ucap Keyla sebelum masuk ke mobil. Keyla membuka pintu dan masuk diikuti Glady yang duduk disebelah Keyla. Terlihat Diva sedang membaca buku humor dan tertawa sendiri. Diva menghentikan tawanya dan merasa malu melihat Glady masuk ke mobil.
"Maaf, kamu Glady?" Tanya Diva. Glady hanya mengangguk. "Kenalkan aku Diva sahabatnya Key" Diva mengulurkan tangan nya disambut senang oleh Glady. "Katanya sudah lima tahun kamu tak berlibur ke Indo? Dia sering cerita tentang kamu. Memang benar menurut ceritanya, kamu cantik" Ungkapnya jujur. Glady tertawa.
"Sepupuku ini memang selalu berlebih...."
"Sudah, ceritanya nanti saja" Potong Keyla cepat, karna tak ingin Giva melanjutkan ceritanya yang pasti akan membuat Keyla malu dihadapan Glady. Perlahan Keyla menjalankan mobilnya. Glady membalikan badannya ke belakang.
"Aku kira tak ada yang mau bersahabat dengan Key?" Goda Glady.
"Akhh biasa aja. Lagian dia anaknya asyik kok"
"Tapi nakalnya minta ampun" Diva tertawa mendengar Glady meledek Keyla. Glady berpindah duduk ke belakang disebelah Keyla. Diperjalanan pun terjadi perbincangan Diva dan Glady saling menggoda atau terkadang menggoda Keyla sehingga membuat Keyla kesal. Bahkan terkadang Keyla menginjak gas dengan kecepatan tinggi langsung mengerem sekaligus karna kesal. Tapi walaupun begitu Keyla sangat senang bisa bertemu dengan sepupunya dari Belanda yang selalu membuatnya tersenyum gembira.